Selasa, 12 Agustus 2008

PROTOCOLS of ZION

inilah ke-25 butir rancangan penguasaan dunia yang dibacakan Roshtchild I pada pertemuan 13 keluarga Yahudi terkemuka dunia di Judenstrasse, Bavaria, tahun 1773. Seratus dua puluh empat tahun kemudian, rancangan ini disahkan menjadi agenda bersama Gerakan Zionis Internasional pimpinan Theodore Hertzl dalam Kongres Zionis Internasional I di Basel, Swiss (1897) dengan nama "Protocol of Zions ":

1) Manusia itu lebih banyak cenderung pada kejahatan ketimbang kebaikan. Sebab itu, Konspirasi harus mewujudkan 'hasrat alami' manusia mi. Hal ini akan diterapkan pada sistem pemerintahan dan kekuasaan.

Bukankah pada masa dahulu manusia tunduk kepada penguasa tanpa pernah mengeluarkan kritik atau pembangkangan? Undang-undang hanyalah alat untuk membatasi rakyat, bukan untuk penguasa.

2) Kebebasan politik sesungguhnya utopis. Walau begitu, Konspirasi harus mempropagandakan ini ke tengah rakyat. Jika hal itu sudah dimakan rakyat, maka rakyat akan mudah membuang segala hak dan fasilitas yang telah didapatinya dari penguasa guna memperjuangkan idealisme yang utopis itu. Saat itulah, Konspirasi bisa merebut hak dan fasilitas mereka.

3) Kekuatan uang selalu bisa mengalahkan segalanya. Agama yang bisa menguasai rakyat pada masa dahulu, kini mulai digulung dengan kampanye kebebasan. Namun rakyat banyak tidak tahu harus mengapa dengan kebebasan itu. Inilah tugas Konspirasi untuk mengisinya demi kekuasaan, dengan kekuatan uang.

4) Demi tujuan, segala cara boleh dilakukan. Siapa pun yang ingin berkuasa, dia mestilah meraihnya dengan trik, pemerasan, dan pembalikan opini. Keluhuran budi, etika, moral, dan sebagainya adalah keburukan dalam dunia politik.

5) Kebenaran adalah Kekuatan Konspirasi. Dengan kekuatan, segala yang diinginkan akan terlaksana.

6) Bagi kita yang hendak menaklukkan dunia secara finansial, kita harus tetap menjaga kerahasiaan. Suatu saat, kekuatan Konspirasi akan mencapai tingkat di mana tidak ada kekuatan lain yang berani untuk menghalangi atau menghancurkannya. Setiap kecerobohan dari dalam, akan merusak program besar yang telah ditulis berabad-abad oleh para pendeta Yahudi.

7) Simpati rakyat harus diambil agar mereka bisa dimanfaatkan untuk kepentingan Konspirasi. Massa rakyat adalah buta dan mudah dipengaruhi. Penguasa tidak akan bisa menggiring rakyat kecuali ia berlaku sebagai diktatur. Inilah satu-satunya jalan.

8) Beberapa sarana untuk mencapai tujuan adalah: Minuman keras, narkotika, pengrusakan moral, seks, suap, dan sebagainya. Hal ini sangat penting untuk menghancurkan norma-norma kesusilaan masyarakat. Untuk itu, Konspirasi harus merekrut dan mendidik tenaga-tenaga muda untuk dijadikan sarana pencapaian tujuan tersebut.

9) Konspirasi akan menyalakan api peperangan secara terselubung. Bermain di kedua belah pihak. Sehingga Konspirasi akan memperoleh manfaat besar tetapi tetap aman dan efisien. Rakyat akan dilanda kecemasan yang mempermudah bagi Konspirasi untuk menguasainya.

10) Konspirasi sengaja memproduksi slogan agar menjadi 'tuhan' bagi rakyat. Dengan slogan itu, pemerintahan aristokrasi keturunan yang tengah berkuasa di Perancis akan diruntuhkan. Setelah itu, Konspirasi akan membangun sebuah pemerintahan yang sesuai dengan Konspirasi.

11) Perang yang dikobarkan Konspirasi secara diam-diam harus menyeret negara tetangga agar mereka terjebak utang. Konspirasi akan memetik keuntungan dari kondisi ini.

12) Pemerintahan bentukan Konspirasi harus diisi dengan orang-orang yang tunduk pada kemginan Konspirasi. Tidak bisa lain.


13) Konspirasi akan menguasai opini dunia. Satu orang Yahudi yang menjadi korban sama dengan 1.000 orang non-Yahudi (Gentiles/Ghoyim) sebagai balasannya.

14) Setelah Konspirasi berhasil merebut kekuasaan, maka pemerintahan baru yang dibentuk harus membasmi rezim lama yang dianggap bertanggungjawab atas terjadinya semua kekacauan ini. Hal tersebut akan menjadikan rakyat begitu percaya kcpada Konspirasi bahwa pemerintahan yang baru adalah pelindung dan pahlawan dimata mereka.

15) Krisis ekonomi yang dibuat akan memberikan hak baru kepada Konspirasi, yaitu hak pemilik modal dalam penentuan arah kekuasaan. Ini akan menjadi kekuasaan turunan.

16) Penyusupan ke dalam jantung Freemason Eropa agar bisa mengefektifkan dan mengefisienkannya. Pembentukan Bluemasonry akan bisa dijadikan alat bagi Konspirasi untuk memuluskan tujuannya.

17) Konspirasi akan membakar semangat rakyat hingga ke tingkat histeria. Saat itu rakyat akan menghancurkan apa saja yang kita mau, termasuk hukum dan agama. Kita akan mudah menghapus nama Tuhan dan susila dari kehidupan.

18) Perang jalanan harus ditimbulkan untuk membuat massa panik. Konspirasi akan mengambil keuntungan dari situasi itu.

19) Konspirasi akan menciptakan diplomat-diplomatnya untuk berfungsi setelah perang usai. Mereka akan menjadi penasehat politik, ekonomi, dan keuangan bagi rezim baru dan juga di tingkat internasional. Dengan demikian, Konspirasi bisa semakin menancapkan kukunya dari balik layar.

20) Monopoli kegiatan perekonomian raksasa dengan dukungan modal yang dimiliki Konspirasi adalah syarat utama untuk menundukkan dunia, hingga tidak ada satu kekutan non-Yahudi pun yang bisa menandinginya. Dengan demikian, kita bisa bebas memainkan krisis suatu negeri.

21) Penguasaan kekayaan alam negeri-negeri non-Yahudi mutlak dilakukan.

22) Meletuskan perang dan memberinya—menjual—senjata yang paling mematikan akan mempercepat penguasaan suatu negeri, yang tinggal dihuni oleh fakir miskin.

23) Satu rezim terselubung akan muncul setelah Konspirasi berhasil melaksanakan programnya.

24) Pemuda harus dikuasai dan menjadikan mereka sebagai budak-budak Konspirasi dengan jalan penyebarluasan dekadensi moral dan paham yang menyesatkan.

25) Konspirasi akan menyalahgunakan undang-undang yang ada pada suatu negara hingga negara tersebut hancur karenanya.

(Majalah Eramuslim Digest Edisi Koleksi III Tahun 2007)

Minggu, 10 Agustus 2008

Penebar Islam Liberal = Domba Kaum Zionis

Peran yang dimainkan oleh orang-orang liberal, para pemimpi utopis itu, pada akhirnya akan dimainkan ketika pemerintah kita mereka akui. Sampai saat itu, mereka akan tetap melayani kita dengan baik. Oleh karena itu, kita akan terus mengarahkan pemikiran-pemikiran mereka kepada segala macam konsepsi dengan teori-teori fantastis, baru, dan nampak progresif: yang akan sia-sia, karena kita tidak akan mengisi kepala-kepala kosong para goyim (istilah Ibrani bagi orang non-Yahudi atau gentile menurut istilah Latin) itu dengan kemajuan ataupun dengan keberhasilan yang sempuma; hingga tidak satu pun dari otak para goyim itu yang mampu memahami, bahwa di dalam kata liberal ini tersembunyi pengertian tentang keberangkatan untuk meninggalkan segala aspek kebenaran, karena hal itu bukanlah masalah tentang penemuan-penemuan materi, dan karena kebenaran itu hanya satu, yang di dalamnya sudah tidak ada lagi tempat bagi kemajuan (progress). Kemajuan itu bagaikan sebuah gagasan yang keliru, bekerja untuk menutupi kebenaran, sehingga tak seorang pun dapat mengetahui tentang kebenaran itu, kecuali kita, Manusia Pilihan Tuhan, yaitu wali-wali-Nya.” (Kutipan Protokol Ke-13 dari Protocols of the Learned Elders of Zion).

Pencipta Isme-Isme

Bila Anda pernah membaca Protocols of the Learned Elders of Zion (Protokol Panatua Panutan Kaum Zionis), yang lazim juga disebut Protocols of Zion, maka dengan gamblang kita akan memahami bahwa para Panatua Panutan Zionis di abad ke-18 –yang mereka sebut Abad Pencerahan (Enlightment Era), yang hampir secara bersamaan lahir gagasan-gagasan tentang nasionalisme sebagai antithesis terhadap feodalisme dan sosialisme sebagai antithesis terhadap kapitalisme serta sekularisme sebagai antithesis theokratisme– adalah pencipta isme-isme dunia yang saling bertentangan itu. Jadi, semua isme dunia yang pernah kita kenal –yang sebagian di antaranya sempat dianut oleh berbagai golongan atau partai politik di Indonesia– pada hakikatnya lahir dari Satu Ibu Kandung yang sama.

Lalu, mengapa mereka harus menciptakan dan mempromosikan isme-isme yang saling bertabrakan itu?

Untuk mencoba mengerti hal itu, kita harus mampu memahami sistem, struktur, dan budaya yang mereka anut. Sistem yang mereka anut disebut Fertile Crescent System, struktur yang mereka gunakan disebut The Golden Triangle Structure dan budaya yang mereka pakai adalah Conflict Culture. Artinya, konflik merupakan budaya yang terkandung di dalam sistem dan struktur yang mereka anut dan gunakan. Tanpa konflik, struktur yang mereka gunakan akan runtuh dan secara serta-merta sistem yang mereka anut pun akan hancur (catastrophic level). Oleh karena selama puluhan abad sistem peradaban yang kita anut mengacu pada Fertile Crescent System – yang konon didisains oleh Raja Babylonia, Nimrod atau Namrud, 4 millennium yang lalu– maka dengan sendirinya dunia kita selama puluhan pula tak pernah damai, alias selalu terjerumus dari satu peperangan ke peperangan yang lain. Di Eropa, Fertile Crescent System dikenal dengan Labyrinth/Knossos dan di China disebut San Kuo.

Kebenaran Mutlak

Kalau kita berbicara tentang kebenaran, maka tentu saja hanya ada satu kebenaran, yaitu Kebenaran dengan K besar (uppercase) yang artinya Kebenaran Mutlak. Tentu saja Kebenaran dengan K besar hanya milik Yang Satu pula, yaitu Sang Maha Pencipta.

Sebaliknya, bila kita berbicara tentang ‘kebenaran’ dengan ‘k’ kecil (lowercase), kita akan menemukan banyak ‘kebenaran’. Nah, di sinilah para pemikir, penabur, penganjur, dan penganut Islam Liberal bermain. Bermain-main dengan ‘kebenaran’ (‘k’ kecil), tetapi mencoba menghujat Kebenaran (K besar). Tentu saja hal itu bukan maqom-nya. Artinya tidak sepadan.

Kalau ada cendekiawan yang melayani perdebatan dengan penganut Islam Liberal, sama dengan mereka bermain gaple, permainan akal-akalan.

Bagaimana tidak? Seorang pemain gaple yang pada gebrakan awal mengeluarkan kartu balak empat, berharap lawan-lawannya berfikir bahwa dialah memegang banyak kartu gacoan empat. Ketika lawan-lawannya menutup kedua pintu empat itu, ia senang sekali, karena pada kenyataannya kartu gacoan empatnya cuma satu itu. Tentu saja yang ‘main’ adalah kartu lain yang bukan gacoan empat. Lawan-lawannya kecele, karena kartu empat yang ada di tangan mereka justeru tak pernah bisa keluar lagi, karena tak diberi kesempatan untuk muncul.

Begitu pula dengan para penganut Islam Liberal, mereka menafikan hukum wajib menutup aurat dengan pernyataan bahwa pakaian yang tertutup merupakan budaya Bangsa Arab. Jadi, hukum menutup aurat bukan Kebenaran, sehingga perintah tersebut boleh-boleh saja tidak diikuti. Apalagi sekarang ini, wanita-wanita telanjang atau setengah telanjang atau mempertontonkan pusarnya bertebaran di mana-mana. Dan, hal itu telah ‘diterima’ zaman, karena tidak ada yang protes dan banyak pula diikuti oleh kaum wanita dari perkotaan hingga ke perdesaan. Konsekuensinya, agar Islam dan al-Qur’an tetap eksis, maka Islam dan al-Qur’an harus mengintil-ngintil di belakang zaman. Inilah pemahaman mengenai ‘kebenaran’ penganut Islam Liberal, yang sesungguhnya bukanlah Kebenaran.

Bagi mereka yang cukup mengerti tentang hukum-hukum Islam, tentu saja akan mampu membaca ‘permainan gaple’ tersebut. Para penganut Islam Liberal menafikan Kebenaran Mutlak. Kata mereka, “Tidak ada itu Kebenaran Mutlak, yang ada adalah kebenaran relatif.”

Tetapi, entah karena licik atau idiot, mereka memberikan postulat bahwa zaman ini pasti menuju kepada Kebenaran Mutlak, karenanya Islam maupun al-Qur’an harus ‘mengikuti’ (mengintil-ngintil) zaman. Terbuktilah bahwa perdebatan tentang ini hanya ‘akal-akalan’.

Sama persis dengan ‘akal-akalan’-nya para Panatua Panutan Kaum Zionis, yang menciptakan ide liberal sebagaimana yang dikutip dari Protocols of Zion di awal tulisan ini. Mereka mengatakan, bahwa untuk mencapai Kebenaran Mutlak harus melalui proses liberalisasi. Padahal mereka mengetahui dengan pasti, bahwa di dalam kata liberal itu terkandung pengertian tentang keberangkatan untuk meninggalkan Kebenaran yang Satu.

PIRAMIDA ILLUMINATI YAHUDI BERATINGKAT 13
Pyramida illuminati bertingkat 13 ini sama dengan gambar pyramida pada salah satu sisi Lambang Negara Amerika Serikat ( The Great Seal ). Humanisme merupakan dasar bagi ajaran Illuminati-Yahudi, sedangkan puncaknya adalah Rotschile Tribunal (Dinasti Bankir Yahudi asal Inggris) yang kini “malang-melintang pula didunia Industri - Asuransi - konsultan keuangan dan perbankan di Indonesia

Sebagai konsekuensi tidak memisahkan diri dari golongan yang lain, Ummat Islam harus menjadi bagian dari keluarga universal yang berlandaskan humanisme, demikian pandangan para penganut Islam Liberal. Humanisme adalah landasan ideal kaum Yahudi-Illuminati (periksa Piramida Illuminati Bertingkat 13), sama dengan al-Qur’an yang merupakan landasan ideal bagi Ummat Islam dari dulu hingga sekarang dan nanti. Jadi, Ummat Islam diminta meninggalkan al-Qur’an dan menggantinya dengan humanisme, agar bisa menjadi anggota keluarga universal. Dengan demikian, secara induktif dapat disimpulkan, bahwa Islam Liberal sama dengan Yahudi-Illuminati. Setidak-tidaknya, penganut Islam Liberal adalah para goyim yang digembalakan oleh Kaum Yahudi-Illuminati, atau Domba-domba Kaum Zionis. Betul, nggak ?

Sumber: Indonesia NEWSNET, Juni 2005